mengapa engkau masih juga meng-angkasa wahai panglima langit?
padahal aku sudah menapakkan kaki di bumi-mu.
padahal aku sudah menapakkan kaki di bumi-mu.

turunlah...
tapakkan kaki-mu di sini, di bagian lain dari bumi-mu,
yang kuberi nama bumi-ku.
apa sayap-mu tidak lelah panglima?
turunlah kemari, tapakkan kaki-mu pada bumi-ku.

aku bosan meng-angkasa,
berada dalam kumpulan awan yang tak berwarna.
semua tampak sama di sana.
tak bisa diraba, tak bisa ditandai, ataupun dijejaki.
siapa yang akan percaya bahwa aku pernah terbang ke sana bersama mu,
sang panglima langit?
tak ada bukti bahwa kita pernah berada dalam kumpulan awan itu.

berbeda dengan bumi.
sekali kau menapak,
maka setiap langkahmu akan terukir pada bumi-ku.
terukir pada prasasti bumi.
lebih baik seperti itu.
agar semua manusia tau bahwa kita pernah berada di sini.
agar mereka tau, aku pernah menapakkan kaki-ku pada bumi-mu,
dan kau pernah menapakkan kaki-mu pada bumi-ku.
hay ayuuuu ! puisisnyaaaaa aduhai sekali.. hehehe
ReplyDeletekayaknya aku tau ini buat siapa deh :p
buat...an dalam negeri
ReplyDeletesekali kau menapak,
ReplyDeletemaka setiap langkahmu akan terukir pada bumi-ku.
awww. hihi
yu gue link yaaaaa
wowwww..keren
ReplyDeletewalau terkadang memaknai puisi itu sangant subjektif dan ambigu, namun distulah letak keindahan puisi
hai anakku kata lukman
ajarkan anakmu sastra
agar ia pandai berkata kata
karena kata lebih tajam dari pedang
dan tuliskan kata kebenaran pada pelepah korma
ceritakan pada anak cucumu
itulah arti perjuangan
itulah arti keberadaan
yaitu kata kata......(ahta)
makasi semuanya udah leave comment :)
ReplyDelete(sebenernya jadi malu kalo ada yag baca, hehe)